Ulasan Film Detective Conan: The Raven Chaser: Kelam Penunduk Dewa Kematian

Pengantar: Komunitas Conan Fans Club mengadakan “Kompetisi Menulis Review Film Detektif Conan” untuk merayakan 11 tahun berdirinya komunitas ini. Dibuka dari tanggal 15-30 Juni 2022, para peserta yang mengikuti kompetisi ini diharuskan untuk menulis salah satu dari berbagai film-film Detektif Conan yang dirilis hingga kini. Dalam kompetisi ini, KAORI Nusantara turut berpartisipasi untuk menilai submisi tulisan yang telah dikirim oleh para peserta. Setelah disaring oleh tim dari komunitas CFC di penjurian tahap pertama pada 1-9 Juli, tim editor KAORI kemudian menilai dan mencari tiga peserta terbaik pada penjurian tahap kedua yang berhak mendapatkan hadiah spesial dari CFC dan ulasannya dimuat di situs KAORI pada Rabu (20/7). Selamat membaca!


Dalam rangka mengalihkan rasa frustrasi karena melewatkan fan-screening Detective Conan Movie ke-25, saya ‘balas dendam’ dengan menonton ulang film Detective Conan lama. Untuk rewatch, salah satu yang tetap saya bisa nikmati walaupun sudah mengalami pergeseran standar dan selera (alias usia) adalah Detective Conan Movie rilisan tahun 2009, The Raven Chaser (漆黒の追跡者).

© Gosho Aoyama / Shogakukan . YTV . TMS

Rilis 13 tahun lalu, pembuka film ini masih jadi salah satu yang paling nampol dibandingkan 23 (sekarang 24) film lainnya. Sebagai pengikut Detective Conan selama hampir dua dekade, satu hal yang masih saya nantikan adalah terkuaknya identitas Edogawa Conan oleh antagonis kesayangan kita semua: Black Organization. Film ini dibuka tepat dengan hal tersebut, di mana Gin dan Vodka mendadak muncul di kantor Detektif Mouri dan membongkar identitas Conan. Meskipun memang ternyata cuma mimpi buruk, tapi prolog ini cukup manjur untuk me-ngeset mood penonton. Revealing pada bagian opening ini tidak lantas membuat anyep, justru mengisyaratkan bahwa di film ke-13 ini thrill-nya tidak tanggung-tanggung.

detective conan raven chaser
The final showdown…started too early © Gosho Aoyama / Shogakukan . YTV . TMS

Nasib baik, intro di film kali ini bukanlah ‘investasi bodong’. Sekalipun tensi film agak turun di awal film, begitu melodi lagu ‘Nanatsu no Ko (tujuh anak)’ dan mobil legendaris Porsche 356A muncul, adrenalin penonton langsung kembali terpacu. Kasus yang tadinya disadap Conan sebagai iseng-iseng, mendadak berubah menjadi kasus menegangkan yang hanya dipahami oleh inner circle Conan (Ai Haibara, Profesor Agasa) plus kita para penonton. Ketegangan dari munculnya canon villain, ditambah dengan rasa geregetan melihat betapa clueless-nya para polisi tentang betapa pentingnya kasus yang mereka hadapi ini, semakin membuat jantung penonton ikut jungkir balik.

Baca Juga :  Stand By Me Doraemon 2 Bakal Tayang di RCTI

Baca Juga: Mari Kenalan dengan Para Seiyu BASTARD!! -Heavy Metal, Dark Fantasy- Versi Bahasa Indonesia

Desain plot dari ‘The Raven Chaser’ sebenarnya tidak banyak bergeser dari ‘pakem’ film Detective Conan lainnya, yaitu satu kasus utama yang durasinya sekitar 8-10 chapter manga, penceritannya dibalut dengan dramatisasi ekspresi karakter (di mana ekspresi orang dewasa terpasang di wajah anak kecil) dan klimaks cerita yang fully-packed oleh adegan action. Hanya saja, karena di sini Black Organization ikut terlibat, maka kasus yang muncul jadi terasa berkali lipat lebih menegangkan. Kemunculan lengkap skuad kepolisian dari berbagai perfektur, plus kehadiran rival-slash-partner Conan dari Osaka, Heiji Hattori yang juga ikut membantu penyelidikan, membuat film ini terasa seperti ‘The Avengers’ versi MCU (Meitantei Conan Universe) atau DCU (Detective Conan Universe).

Film ini berhasil memanfaatkan keberadaan Black Organization sebagai main villain
dari serial utama dengan cerdas. Dengan kemunculan mereka, adegan action dan kasus yang ‘biasa-biasa’ pun terasa lebih ‘dark’ karena image Black Organization yang penuh misteri. Meskipun tanpa adanya film spesial omnibus (seperti yang disiapkan untuk dua film terakhir), tapi penggunaan potongan adegan dari episode TV yang strategis cukup untuk memberi konteks dan referensi bagi penonton, bahkan untuk orang-orang yang bukan maniak Detective Conan. Ya… walaupun sebenarnya pre-movie-nya bukannya tidak ada sih. Di beberapa minggu sebelum penayangan film ini di bioskop, TMS Entertainment me-remake episode dan kasus pertama serial Detective Conan, serta menayangkan kembali episode spesial Black Organization dalam tayangan spesial 1 jam.

Daftar anime Detective Conan sebelum penayangan ‘The Raven Chaser’ (Sumber: detectiveconanworld.com)

Entah kebetulan atau tidak, tapi kontras antara anime pre-movie yang saat itu tayang di TV, dengan chapter manga yang terbit pada tanggal penayangan, mungkin cukup efektif untuk mematri efek mencekam Black Organization di benak fans Detective Conan. Soalnya kan lucu ya, di saat manga mingguan sedang menampilkan betapa menggemaskannya perjuangan Inspektur Shiratori mengejar cinta pertamanya, di TV malah sedang ditayangkan kembali horor pertama Detective Conan. Terlepas dari apakah desain ini disengaja atau tidak, tapi tiga minggu yang kental dengan Black Organization sepertinya cukup untuk ‘pemanasan’ fans sebelum menonton film yang kental dengan aura organisasi misterius ini.

Baca Juga :  Sambut Date A Live V!

Dari segi judul, menurut saya ini film Detective Conan: The Raven Chaser cukup ‘jujur’ dan tidak misleading. Fokus cerita film ini selain memecahkan kasus pembunuhan ‘Tanabata Kyo’, juga untuk mengejar keberadaan benda hitam legam yang mengancam eksistensi Black Organization. Cukup match dengan judul aslinya, “Shikkoku no Cheisaa” (the chaser of jet-black). Adapun judul internasionalnya, ‘The Raven Chaser‘ juga cukup ‘masuk’ dengan keseluruhan plot cerita. Selain makna tersurat dari sudut pandang protagonis yang mengejar sang pembawa petaka yang ‘hitam’, The Raven Chaser juga memiliki arti lain. Seperti kita ketahui, selain diartikan ‘hitam legam’, istilah ‘raven’ juga diartikan sebagai sejenis gagak yang di budaya Asia banyak diasosiasikan dengan bala dan kesialan. Tentu sangat pas dengan ‘kesialan beruntun’ yang Conan harus temui selama memecahkan teka-teki tindak kriminal di film ini.

Ngomong-ngomong, Detective Conan: The Raven Chaser kan dirilis sebagai film ke-13 (angka sial). Apakah memang dulu disengaja ya?

Selain ‘aura hitam’ bawaan dari bayang-bayang Black Organization, saya juga menangkap
nuansa gelap yang berbeda dari protagonis kita. Di film ini, identitas Conan akhirnya benar-benar ketahuan. Kita akhirnya melihat ‘dewa kematian’ yang selama ini cerdik dan in-control akhirnya terpojok. Seingat saya, ini baru kedua kalinya saya melihat Conan betul-betul terlihat vulnerable, setelah terakhir kali ekspresi yang sama terlihat ketika ia tumbang di file 251-254. Sebagai fans yang agak gemas melihat betapa over-powered-nya Conan selama bertahun-tahun, melihat si kecil keliling kota dengan wajah pasrah lumayan memberikan angin segar. Rasanya seperti ‘ah, ternyata Shinichi Kudo masih manusia’.

Masih tentang Conan yang mulai ‘membumi’, di film ini kita juga tidak terlalu banyak melihat aksi Conan tackling the impossible hanya dengan gadget Profesor Agasa. Jika biasanya kita melihat Conan pontang-panting mengerjakan job desc satu kompi polisi anti huruhara dan damkar sendirian, di sini aksi Conan di atas turbo-engine skateboard cukup minimal, setidaknya untuk standar film Detective Conan. Mungkin hal ini membuat poin action yang dieksekusi protagonis film ini sedikit berkurang, tetapi bagi saya justru membuat figur Conan semakin terlihat ‘relatable‘. Di film ini, yang aksi heroiknya paling berkesan justru Ran, yang sempat memperlihatkan aksi karatenya di klimaks film.

Baca Juga :  Tiga Personel Liella! Kecelakaan - KAORI Nusantara
© Gosho Aoyama / Shogakukan . YTV . TMS
Less is more. But more action for female deuteragonists? Yum. © Gosho Aoyama / Shogakukan . YTV . TMS

Jika ada satu hal yang saya sesalkan dari film ini adalah konsep bahwa film Detective Conan adalah non-canon, dalam arti kejadian apapun yang terjadi di film tidak akan berpengaruh, atau dibuat tidak berpengaruh, ke plot utama di manganya. Padahal menurut saya, kalau alur The Raven Chaser masuk ke plot manga akan membuat perkembangan main story menjadi berkali-kali lipat lebih menegangkan dibandingkan sekarang. Bayangkan bagaimana deg-degannya mengikuti cerita Detective Conan, ketika kubu Black Organization (selain Vermouth) sudah memegang satu ‘trump card‘ yang bisa menentukan hidup-matinya sang tokoh utama?

Rating
Plot development: 5/5 (excellent)
Criminal case: 4/5 (good)
Character: 4/5 (good)
Grafis: 3/5 (ok)
Final score: 4/5 (good)

Oleh Dewi Niara Astuti | Salah satu pemenang “Kompetisi Menulis Review Film Detektif Conan” yang diselenggarakan oleh Conan Fans Club dan KAORI Nusantara